3.4 INDEKS HARGA DAN INFLASI
SMA SAPTA KHARISMA
Oleh Yati Octavia, S.Pd
b. Jika indeks harga < 100 berarti
harga mengalami penurunan (terjadi deflasi).
c. Jika indeks harga = 100 berarti
harga tetap (tidak naik dan tidak turun).
Contoh :
Bila harga barang tahun 2014 sebesar Rp8.000,00 per kilogram, kemudian pada tahun 2015 naik menjadi Rp10.000,00 per kilogram, maka indeks harga barang tersebut pada tahun 2015 dapat dihitung sebagai berikut : 10.000 / 8.000 x 100 = 125
Jadi harga barang pada tahun 2015 mengalami kenaikan sebesar 25%.
2. Jenis Indeks Harga
Adapun jenis indeks harga dalam kegiatan ekonomi suatu negara secara umum dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:
a. Indeks Harga Konsumen (IHK)
Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan indeks harga yang umum digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga. Dengan kata lain, IHK adalah indeks yang mengukur perubahan-perubahan yang terjadi pada harga eceran barang dan jasa yang diminta konsumen dari waktu ke waktu. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari sejumlah barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. IHK merupakan salah satu indikator ekonomi yang memberikan informasi mengenai harga barang dan jasa yang dibayar oleh konsumen. Perhitungan IHK dilakukan untuk merekam perubahan harga beli di tingkat konsumen (purchasing cost) dari sekelompok tetap barang dan jasa (fixed basket) yang pada umumnya dikonsumsi masyarakat.
b. Indeks Harga Produsen (IHP)
Indeks Harga Produsen (IHP) adalah indeks harga yang menggambarkan tingkat perubahan harga di tingkat produsen. Pengguna data dapat memanfaatkan perkembangan harga produsen sebagai indikator dini harga grosir maupun harga eceran. Selain itu dapat juga digunakan untuk membantu penyusunan neraca ekonomi (PDB), distribusi barang, margin perdagangan, dan sebagainya.
IHP dikelompokkan ke dalam sektor Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, dan Industri Pengolahan.
a. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB)
Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa IHPB adalah harga indeks yang menggambarkan besarnya perubahan harga pada tingkat harga perdagangan besar/grosir dari komoditas-komoditas yang diperdagangkan di suatu negara/daerah, Komoditas tersebut merupakan produksi dalam negeri ataupun yang diekspor dan komoditas yang berasal dari impor.
a.
Indeks harga saham
1) Indeks Harga Saham Individu
(IHSI) adalah indeks harga masing-masing saham
yang tercatat pada Bursa Efek Indonesia (BEI).
2) Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) adalah indeks semua saham yang tercatat sebagai
komponen perhitungan indeks.
2. Tujuan Perhitungan Indeks Harga
3. Metode Perhitungan Indeks Harga
Dalam menyusun indeks harga perlu dirumuskan tentang apa yang akan diukur, bagaimana cara mengukur, dan untuk apa pengukuran tersebut dilakukan. Penyusunan indeks harga dalam ekonomi bertujuan antara lain sebagai berikut.
a.Sebagai petunjuk atau barometer dari kondisi
ekonomi umum. Hal ini mengandung maksud sebagai berikut:
- Indeks harga grosir
dapat menggambarkan secara
tepat tentang tren perdagangan.
- Indeks harga diterima
petani dapat menggambarkan kemakmuran di bidang
agraria.
b. Sebagai pedoman bagi kebijakan dan administrasi perusahaan.
c. Indeks harga dapat dipergunakan sebagai deflator, maksudnya
bahwa pengaruh perubahan harga dapat dihilangkan dengan
cara membagi nilai tertentu dengan indeks harga yang sesuai. Proses
ini dinamakan proses deflasi dan pembaginya disebut deflator.
d. Indeks harga dapat dipakai sebagai pedoman bagi
pembelian barang-barang. Maksudnya adalah
harga barang yang dibeli dapat dibandingkan dengan indeks harga eceran atau indeks harga grosir agar dapat diukur efisiensi
pembelian barang-barang yang bersangkutan.
e. Indeks harga barang-barang konsumsi merupakan
pedoman untuk mengatur gaji buruh atau menyesuaikan kenaikan gaji buruh pada masa inflasi.
Perhitungan indeks harga dapat dilakukan dengan beberapa metode. Oleh karena itu, perlu dilakukan pilihan yang tepat agar tujuan angka indeks yang telah ditetapkan hasilnya dapat dipercaya. Pada dasarnya terdapat dua metode penghitungan angka indeks yaitu:
a. Indeks Harga Agregatif Sederhana atau Indeks Harga Agregatif Tidak Tertimbang (simple aggregative methode).
b. Indeks Harga Agregatif Tertimbang.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan pembahasan berikut ini.
a. Indeks Harga Agregatif Sederhana (Indeks Harga Agregatif Tidak Tertimbang).
Metode ini sangat sederhana, indeks harga dihitung dengan rumus sebagai berikut :
![]()
![]()
Berdasarkan data di atas, maka indeks Laspeyres (IL) dapat dihitung sebagai berikut. IL = 210.000 / 200.000 x 100 = 105,00
Berarti pada tahun 2015 telah terjadi kenaikan harga sebesar 5%.Dari Metode Laspeyres dan Metode Paasche terdapat suatu kelemahan sebagai berikut.
- Angka indeks Laspeyres mempunyai kelemahan yaitu hasil penghitungan lebih besar (over estimate), karena pada umumnya harga barang cenderung naik, sehingga kuantitas barang yang diminta mengalami penurunan. Dengan demikian besarnya Qo akan lebih besar dari pada Qn.
- Angka indeks Paasche mempunyai kelemahan yaitu hasil penghitungan cenderung lebih rendah (underestimate), karena dengan naiknya harga akan menyebabkan permintaan turun, sehingga Qn lebih kecil dari pada Qo.
Untuk menghilangkan kelemahan tersebut dilakukan dengan cara mengintegrasikan angka indeks tersebut, yaitu dengan menggunakan metode indeks Drobisch and Bowley. (ID), Indeks Irving Fisher (IF), dan Indeks Marshal Edgewarth (IM).
1) Metode Drobisch and Bowley (ID)
Angka indeks tertimbang dengan Metode Drobisch and Bowley dapat dirumuskan sebagai berikut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar