Selasa, 06 September 2022

BAB 1 PENGANTAR ILMU EKONOMI

PENGANTAR ILMU EKONOMI
KELAS 10 KURIKULUM MERDEKA
SMA SAPTA KHARISMA

1. Pengertian Ilmu Ekonomi

Kata ekonomi berasal dari bahasa Yunani, yakni oikonomia yang berarti manajemen rumah tangga. Asal katanya adalah oikos dan nomos. Oikos berarti keluarga atau rumah tangga dan nomos berarti peraturan, aturan, atau hukum. Oikonomia adalah aturan masyarakat sebagai hukum kodrat yang
menetapkan rumah tangga yang baik..
Dalam perkembangannya, terdapat sejumlah pengertian mengenai ilmu ekonomi, antara lain sebagai berikut.

a. Adam Smith mengatakan bahwa ekonomi ialah penyelidikan tentang keadaan dan sebab adanya kekayaan negara (Jain dan Khanna, 2006).

b. J. B. Say menyatakan bahwa ekonomi sebagai suatu kajian tentang peraturan yang bisa menentukan kekayaan (Jain dan Khanna, 2006).

C. Menurut J. S. Mill, ekonomi adalah ilmu praktis tentang produksi dan distribusi kekayaan (Jain dan Khanna, 2006).

d. Alfred Marshall (2012) mengatakan bahwa ekonomi adalah studi tentang umat manusia dalam usaha mengkaji bagian dari tindakan individu dan sosial yang paling dekat dengan pencapaian dan penggunaan kesejahteraan material.

e. Menurut John B. Penson, ekonomi adalah ilmu kesejahteraan material (Jain dan Ohri, 2010). 

f. Lionel Robbins (2007) mengatakan bahwa ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia sebagai kaitan antara tujuan (ends) dan sarana yang langka (scarce means) yang mempunyai banyak alternatif kegunaan. 

g. Richard G. Lipsey menyatakan bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari pemanfaatan sumber daya yang langka untuk memenuhi keinginan manusia yang tidak terbatas (Lipsey, Ragan, dan Storer, 2007). 

h. N. Gregory Mankiw (2011) menyatakan bahwa ilmu ekonomi adalah studi tentang cara masyarakat mengelola sumber- sumber daya yang langka.

i. Robert B. Ekelund Jr. dan Robert D. Tollison (2006) mengatakan bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari cara individu dan masyarakat yang mempunyai keinginan yang tidak terbatas memilih untuk mengalokasikan sumber daya yang terbatas untuk memuaskan keinginan mereka.

j. Paul A. Samuelson dan William Nordhaus (2009) menyatakan bahwa ilmu ekonomi adalah suatu studi tentang cara masyarakat menggunakan daya produksi yang terbatas untuk menghasilkan barang dan jasa serta mendistribusikannya kepada berbagai individu.

2. Sejarah Ilmu Ekonomi

Setelah mempelajari berbagai pengertian ilmu ekonomi, pada bagian ini dibahas sejarah ilmu ekonomi.

a. Xenophon dan Adam Smith

Salah satu karya pertama tentang ekonomi ditulis oleh Xenophon yang hidup sekitar 350 tahun SM. Karyanya adalah Oeconomicus yang berarti manajemen rumah tangga. Isinya dialog Socrates dan Critobulus mengenai pengaturan manajemen rumah tangga, termasuk pembagian pekerjaan dan pentingnya pendidikan bagi semua anggota rumah tangga untuk meningkatkan produksi pertanian (Medema, 2019). 
Ilmu Ekonomi kemudian makin berkembang. posisi ekonomi sebagai ilmu pengetahuan makin penting, khususnya setelah penerbitan buku The Wealth of Nations Oleh Adam Smith pada tahun 1776. Terbitnya buku ini ditandai pula dengan perubahan pada masyarakat melalui revolusi industri. Kehadiran pabrik. pabrik dan produksi barang secara massal mendorong para pemikir melihat ekonomi secara luas. Di dalam bukunya, Smith menganalisis keadaan pasar. la menyatakan pasar dibimbing oleh "tangan tak terlihat" atau invisible hand. Konsep ini menyatakan aksi rasional individu, bahkan tanpa ikut campur tangannya pemerintah di pasar, dapat mendorong pasar berjalan dengan baik, seolah dibimbing "tangan tak terlihat

Setelah terbitnya buku The Wealth of Nations, muncul berbagai pemikir ekonomi yang mengembangkan ilmu ekonomi. Perkembangan ilmu ekonomi pun mencakup makro ekonomi dan mikro ekonomi. Makro ekonomi melihat ekonomi secara luas, baik nasional atau internasional. Makro ekonomi, antara lain membahas perkembangan ekonomi negara dan kawasan tertentu, inflasi, pengangguran, dan ekspor-impor. Mikro ekonomi melihat interaksi individu dan perusahaan dalam suatu sistem ekonomi. Mikro ekonomi, antara lain membahas permintaan dan penawaran, mekanisme pasar, dan kompetisi

b. Barter dan Uang

Salah satu konsep penting dalam sejarah ekonomi adalah barter. Barter adalah perdagangan dengan saling bertukar barang. Praktik ini dilakukan karena manusia tidak dapat memenuhi semua kebutuhannya sendiri. Pertukaran barang dengan cara barter efektif terjadi saat manusia tidak lagi mengandalkan kegiatan berburu dan mulai menetap untuk bercocok tanam dan beternak. Kegiatan barter diperkirakan telah berlangsung sejak 6000 SM. Kebutuhan suatu kelompok masyarakat yang menetap dapat dipenuhi dengan bertukar barang dengan kelompok lain.

Syarat-syarat barter, antara lain sebagai berikut: 
1) Barang yang ditukarkan ada secara fisik atau nyata. 
2) Individu atau kelompok yang ingin melakukan barter harus saling memerlukan barang yang ditukarkan pada saat bersamaan.
3) Barang yang ditukar harus memiliki nilai setara atau mendekati.
4) Terdapat kesepakatan antara kedua belah pihak. 

Sistem barter tidak selalu berjalan dengan mulus. Terdapat sejumlah kesulitan, seperti harus mencari orang yang saling memerlukan pada waktu bersamaan, kedua pihak harus menyepakati nilai barang yang dibarter, dan adanya keadilan pada nilai barang yang dibarter. Misalnya, apa yang terjadi jika seseorang membutuhkan beras tetapi yang ia miliki adalah sebuah mobil? Tentu akan sulit mencari orang yang secara bersamaan mampu dan mau menukarkan beras dengan nilai yang sama dengan sebuah mobil.

Pada perkembangan selanjutnya, sistem barter dianggap merepotkan sehingga manusia mencari alat yang dapat digunakan sebagai pengganti nilai sebuah barang. Perkembangan teknik pencatatan juga mendorong disepakatinya sebuah alat tukar agar barang yang akan dibarter dapat dicatat dengan nilai tertentu. Sejarah mencatat, benda-benda tertentu digunakan sebagai pengganti nilai barang. Koin besi sebagai pengganti nilai barang diperkirakan muncul sejak 650 SM di daerah Lydia, di Turki saat ini. Selama dua ribu tahun kemudian, koin yang berasal dari emas, perak, atau tembaga menjadi alat utama jual dan beli barang. Saat itu, nilai dari koin hampir setara dengan barang yang dipertukarkan. Makin mahal harga sebuah barang, makin besar nilai koin yang diperlukan untuk membelinya. Hal ini disebut sebagai nilai intrinsik dari koin sebagai uang.

Saat ini, bentuk uang beragam. Uang dalam bentuk koin masih ada, tetapi umumnya berasal dari bahan tembaga. Nilai koin sebagai uang pun tidak sama dengan harga barang yang dibeli. Selain uang dalam bentuk koin, uang dalam bentuk kertas pun mulai hadir. Pada abad ke-20, uang dapat tersimpan secara digital di bank-bank. Orang yang ingin memperoleh uang dalam bentuk fisik harus mengambilnya di bank atau melalui ATM. Pembelian barang atau pengiriman uang dari seseorang kepada orang lain dapat dilakukan secara digital.

B. Kebutuhan Manusia dan Kelangkaan Sumber Daya

1. Kebutuhan Manusia
a. Kebutuhan yang Tidak Terbatas
Setiap individu memiliki kebutuhan yang hampir tak terbatas. Jika setiap orang diminta untuk membuat sebuah daftar kebutuhan, kebutuhan itu akan sangat banyak. Bahkan hampir tak terbatas. Kebutuhan yang tidak terbatas pada dasarnya bukan masalah. Namun, akan menjadi masalah ketika kebutuhan yang tidak terbatas itu bertemu dengan sarana pemenuhan kebutuhan yang terbatas.

Kebutuhan manusia dapat dikelompokkan berdasarkan jenis dan faktor-faktor yang memengaruhinya. 
1) Jenis-Jenis Kebutuhan

Jenis kebutuhan dapat dibedakan berdasarkan tingkat intensitasnya, subjek yang membutuhkan, waktu pemenuhan kebutuhan, dan sifat pemenuhan kebutuhan. 
a) Jenis kebutuhan berdasarkan tingkat intensitas (keharusan pemenuhan kebutuhan), kebutuhan dibedakan menjadi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier.

(1) Kebutuhan primer, 
yaitu kebutuhan manusia yang harus dipenuhi untuk melangsungkan hidupnya. Kebutuhan primer sering disebut sebagai kebutuhan alamiah atau kebutuhan utama.
(2) Kebutuhan sekunder, 
yaitu kebutuhan pelengkap adalah kebutuhan yang dipenuhi setelah kebutuhan primer. Contohnya, sepatu, tas, dan peralatan untuk bekerja.
(3) Kebutuhan tersier, 
yaitu kebutuhan yang bersifat mewah. Umumnya tujuan pemenuhan kebutuhan ini adalah untuk menaikkan status sosial atau aktualisasi diri seseorang. Kebutuhan mewah dipenuhi setelah kebutuhan primer dan sekunder telah terpenuhi. Sebagai contoh, penggunaan mobil mewah bukan lagi bertujuan sebagai sarana transportasi, tetapi untuk menunjukkan status sosial.

b) Jenis kebutuhan berdasarkan subjek (yang membutuhkan). Jenis kebutuhan menurut subjek dibedakan menjadi kebutuhan individu dan kebutuhan umum. 
(1) Kebutuhan individu, yaitu kebutuhan yang berhubungan dengan berbagai individu yang berbeda. Contohnya, petani membutuhkan cangkul, benih, traktor, dan alat pertanian. Di lain pihak, guru membutuhkan alat peraga, buku referensi, modul, dan perangkat mengajar lainnya.

(2) Kebutuhan umum, yaitu kebutuhan yang berhubungan dengan masyarakat atau disebut juga kebutuhan sosial. Contohnya, jalan raya, air bersih, dan jaringan listrik.

c) Jenis kebutuhan berdasarkan waktu Berdasarkan waktu pemenuhannya, kebutuhan dibedakan atas kebutuhan sekarang dan masa mendatang.
(1) Kebutuhan sekarang atau kebutuhan saat ini adalah kebutuhan yang tidak dapat ditunda pemenuhannya dan harus dilakukan saat ini. (2) Kebutuhan masa mendatang atau kebutuhan masa depan adalah kebutuhan yang dirancang atau direncanakan untuk terpenuhi di masa depan.

d) Jenis kebutuhan menurut sifat pemenuhan kebutuhan
Jenis kebutuhan ini digolongkan berdasarkan sasaran alat pemenuhan kebutuhan yang digunakan. Dalam hal ini, terdapat alat pemenuhan kebutuhan jasmani dan alat pemenuhan kebutuhan rohani.
(1) Kebutuhan jasmani atau kebutuhan fisik adalah kebutuhan yang berhubungan dengan tubuh manusia. Jenisnya antara lain pakaian, makanan, minuman, dan obat-obatan.

(2) Kebutuhan rohani adalah kebutuhan yang berhubungan dengan kejiwaan seseorang. Contohnya, agar dapat bekerja lebih baik karyawan perlu mendapat nasihat, motivasi, dan latihan.

b. Barang dan Jasa sebagai Alat Pemenuhan Kebutuhan Untuk memenuhi kebutuhan manusia diperlukan barang dan jasa. Barang adalah alat pemenuhan kebutuhan manusia yang mempunyai bentuk fisik. Di lain pihak, jasa adalah alat pemenuhan kebutuhan yang tidak berbentuk tetapi bisa dirasakan manfaatnya.

1) Jenis-Jenis Barang
Barang dapat dibedakan berdasarkan cara memperoleh, kepentingan barang dalam kehidupan manusia, cara penggunaan, serta cara pengerjaan menurut bentuk dan sebab.
a) Berdasarkan cara memperoleh, barang dapat dibedakan menjadi barang ekonomi dan barang nonekonomi. 
(1) Barang ekonomi adalah barang yang didapat dengan cara mengorbankan sesuatu untuk mendapatkannya. Contohnya, baju, komputer, dan sepatu. 
(2) Barang nonekonomi atau barang bebas adalah barang yang bisa didapat tanpa pengorbanan atau biaya. Barang-barang ini biasanya tersedia di alam. Contohnya, sinar matahari, air sungai, pasir di pantai, dan udara.

b) Berdasarkan kepentingan, barang dibedakan menjadi barang inferior, barang esensial, barang normal, dan barang mewah.
(1) Barang inferior adalah barang yang pemakaiannya dikurangi jika pendapatan bertambah dan sebaliknya. 
(2) Barang esensial adalah barang yang sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.
(3) Barang normal adalah barang yang permintaannya bertambah ketika pendapatan meningkat dan sebaliknya.

(4) Barang mewah adalah barang yang berharga mahal dan dapat menaikkan status sosial penggunanya. c) Berdasarkan cara penggunaan, barang dapat dibedakan menjadi barang pribadi dan barang publik. 
(1) Barang pribadi adalah barang yang dimiliki dan digunakan oleh individu atau perorangan. (2) Barang publik adalah barang yang digunakan untuk kepentingan banyak orang atau masyarakat umum.

d) Berdasarkan hubungan pemakaian, barang dapat dibedakan menjadi barang substitusi dan komplementer. 
(1) Barang substitusi adalah barang yang dapat menggantikan barang lain. Contohnya, jika harga beras mahal, maka orang mengonsumsi jagung atau singkong sebagai pengganti.
(2) Barang komplementer adalah barang yang kegunaannya semakin bertambah jika digunakan bersama dengan barang lain. Contohnya, sepatu dengan kaus kaki, serta mobil dengan bensin.

e) Berdasarkan cara pengerjaan atau proses pengolahan, barang dapat dibedakan menjadi barang mentah, barang setengah jadi, dan barang jadi.
(1) Barang mentah atau bahan mentah adalah barang yang belum mengalami pengolahan dan biasanya diperoleh langsung dari alam. Contoh: kapas. 
(2) Barang setengah jadi adalah barang yang telah diproses pada tahap tertentu, tetapi belum menjadi barang siap pakai. Contoh: benang. 
(3) Barang jadi adalah barang yang telah diproses hingga siap untuk digunakan. Contoh: kemeja.

f) Berdasarkan bentuk dan sifat, barang dapat dibedakan menjadi barang tetap dan barang bergerak. 
(1) Barang tetap adalah barang yang bersifat tetap dan tahan lama. Contohnya, gedung, dan tanah. 
(2) Barang bergerak adalah barang yang bersifat tidak tetap dan masa pakainya pendek. Contohnya, buah, sayur, beras, dan bahan bakar.

2) Kegunaan Suatu Barang 
Setiap hari manusia membutuhkan berbagai barang untuk memenuhi kebutuhannya. Kegunaan suatu barang bagi manusia setidaknya dapat dibedakan menjadi kegunaan bentuk, tempat, waktu, dan milik (Hussein, 2010).

a Kegunaan bentuk (form utility), yaitu kegunaan yang muncul setelah suatu barang diubah bentuknya. Contohnya papan, paku, cat, dan pelitur yang diolah menjadi meja.

b) Kegunaan tempat (place utility), yaitu kegunaan yang muncul setelah suatu barang dipindahkan ke tempat lain. Contohnya, batu kapur di gunung akan memiliki nilai ekonomis setelah diangkut ke lokasi pembangunan di kota.

c) Kegunaan waktu (time utility), yaitu kegunaan barang ketika digunakan tepat waktu. Contohnya, pakaian bayi yang berguna pada waktu bayi telah lahir.

d) Kegunaan milik (ownership utility), yaitu kegunaan barang yang muncul ketika barang tersebut telah dimiliki. Contohnya, komputer yang ada di toko akan berguna setelah pembeli memiliki barang tersebut sehingga dapat digunakan.

3) Faktor-Faktor yang Memengaruhi kebutuhan

Terdapat perbedaan kebutuhan antarindividu dan antarkelompok. Contohnya, kebutuhan seorang pelukis dan arsitek tentu berbeda. Terdapat beberapa penyebab perbedaan kebutuhan tersebut. Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, agama, adat istiadat, dan peradaban.

a) Lingkungan merupakan salah satu faktor penyebab yang memengaruhi perbedaan kebutuhan manusia. Manusia yang hidup pada lingkungan yang berbeda akan memiliki kebutuhan yang berbeda pula. Contohnya, orang yang tinggal di daerah yang beriklim dingin cenderung menggunakan pakaian tebal.

b) Agama juga merupakan salah satu faktor pembeda kebutuhan individu. Contohnya, orang yang beragama Islam membutuhkan Al-Quran, sajadah, dan tasbih untuk beribadah serta tidak mengonsumsi daging babi. Di lain pihak, penganut agama Hindu menggunakan bunga, janur, dan perlengkapan lainnya untuk melaksanakan ritual keagamaan serta tidak mengonsumsi daging sapi.

c) Adat istiadat yang berlaku di suatu daerah juga turut memengaruhi perbedaan kebutuhan dan pola hidup seseorang. Sebagai contoh, masyarakat suku Melayu Riau memiliki tradisi untuk menggunakan berbagai jenis pakaian adat berdasarkan waktu atau acara tertentu. Sementara itu, masyarakat suku Tapanuli mempunyai tradisi menggunakan ulos dalam acara-acara adat. 

d) Peradaban. 
Kemajuan peradaban yang berbeda-beda di tiap wilayah juga menyebabkan perbedaan kebutuhan. Sebagai contoh, pada tahun 1980-an sarana komunikasi di Indonesia masih terbatas pada telepon dan pos. Saat ini, masyarakat Indonesia dapat berkomunikasi dengan menggunakan telepon seluler dan internet.

2. Kelangkaan Sumber Daya

a. Pengertian Kelangkaan
Inti masalah ekonomi adalah kelangkaan. Kelangkaan (scarcity) adalah kondisi di mana manusia memiliki sumber daya ekonomi yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan yang tak terbatas. Terdapat dua hal yang perlu diperhatikan di sini. Pertama adalah sumber daya ekonomi bersifat terbatas dan yang kedua adalah pemenuhan kebutuhan memerlukan sumber daya ekonomi yang tidak terbatas.

Kelangkaan menunjukkan hubungan antara berapa banyak sesuatu itu tersedia dan berapa banyak yang diinginkan. Jika kita ingin menggunakan suatu barang lebih dari ketersediaan yang ada, barang tersebut menjadi langka. Makna langka dalam pengertian ekonomi berbeda dari makna langka dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Dalam bahasa sehari-hari, kata langka biasa merujuk pada sesuatu yang jarang ditemukan di alam. Contohnya, orang mungkin tidak bisa mengatakan bahwa air langka dalam arti biasa karena air meliputi hampir dua pertiga permukaan bumi. Namun dalam konteks ekonomi, seseorang dapat mengatakan bahwa air langka dengan mengingat bahwa ketersediaannya tidak sebanding dengan jumlah yang dibutuhkan manusia.

b. Penyebab Kelangkaan

Kelangkaan dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain sebagai berikut.

1) Keterbatasan benda pemenuhan kebutuhan di alam. Tidak semua sumber daya alam yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia dapat segera diperbarui, sehingga lama-kelamaan jumlahnya menjadi sangat terbatas. Contohnya, pembentukan minyak bumi memerlukan waktu hingga jutaan tahun.

Kerusakan sumber daya alam akibat ulah manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak sumber daya alam yang rusak karena ulah manusia..

3) Keterbatasan kemampuan manusia mengolah sumber daya ekonomi yang ada. Keterbatasan ini disebabkan oleh rendahnya penguasaan teknologi dan kurangnya modal. Akibatnya, sumber daya ekonomi tidak dapat dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin.

4) Peningkatan kebutuhan yang lebih cepat dibandingkan penyediaan sarana pemenuhan kebutuhan.

3. Biaya Peluang

Salah satu cara menentukan pilihan yang tepat untuk menetapkan alternatif yang paling menguntungkan adalah dengan mempertimbangkan biaya peluang. a. Pengertian Biaya Peluang

Biaya peluang adalah segala sesuatu yang dikorbankan untuk mendapat sesuatu. Setiap kali kita harus membuat keputusan atau memilih suatu tindakan, kita tidak hanya memilih, tetapi juga harus mempertimbangkan biaya peluang Ada banyak pendapat para ahli tentang biaya peluang, di antaranya sebagai berikut.

1) N. Gregory Mankiw (2020) mengatakan biaya peluang adalah segala sesuatu yang harus Anda korbankan untuk memperoleh sesuatu Maksudnya, biaya peluang harus memperhitungkan biaya materiil dan nonmeteriil yang dikorbankan dalam mendapatkan sesuatu.

2) Robert B. Ekelund Jr. dan Robert D. Tollison (1994) mengatakan biaya peluang adalah biaya dari penggunaan sumber daya ekonomi untuk tujuan tertentu, yang diukur dalam keuntungan yang tidak jadi didapat karena tidak memilih alternatif itu dibandingkan komoditi yang didapat karena memilih alternatif lain.

3) Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus (2009) menyatakan keputusan memiliki biaya peluang karena memilih sesuatu hal dalam konteks kelangkaan berarti menyerahkan sesuatu hal lain. Biaya peluang merupakan nilai barang atau jasa yang dikorbankan.

Berdasarkan beberapa pengertian biaya peluang tersebut. diambil beberapa kesimpulan berikut. 1) Biaya peluang dari sesuatu adalah apa yang dikorbankan

untuk mendapatkan sesuatu. 2) Biaya peluang juga dapat menjadi dasar pilihan jika melakukan alternatif yang dipilih. Hasilnya adalah sesuatu

yang tidak didapat dibandingkan dengan sesuatu yang didapat setelah memilih alternatif tindakan. Untuk lebih memahami penerapan biaya peluang atau opportunity cost, perhatikan contoh berikut.

Sepasang suami istri ingin pergi bertamasya ke suatu tempat hiburan. Mereka harus membayar biaya transportasi sebesar Rp300.000,00 dan membeli tiket masuk Rp100.000,00 Jika tidak pergi bertamasya, pasangan suami istri itu dapat bekerja dan menghasilkan upah masing-masing sebesar Rp100.000,00 sehari. Pertanyaannya, berapa biaya peluang dari suami istri yang bertamasya itu?

Jawab: 
Biaya transportasi : Rp. 300.000
Tiket masuk Rp. 100. 000
Biaya eksplisit : Rp. 400.000
Penghasilan jika tidak bertamasya (biaya implisit). Rp200.000,00 

Biaya yang dikorbankan bukan hanya biaya yang nyata nyata dikeluarkan, tetapi termasuk pendapatan yang tidak jadi diperoleh karena memilih untuk pergi bertamasya. Pada ilustrasi ini biaya peluangnya adalah Rp200.000,00, yaitu pendapatan yang tidak diperoleh.

b. Perbedaan Biaya Peluang dan Biaya Sehari-hari Biaya adalah pengorbanan untuk mendapatkan suatu tujuan. Di suatu perusahaan, biaya merupakan pengorbanan ekonomis untuk memproduksi suatu barang, memasarkan suatu barang, atau kegiatan lainnya. Jika pengorbanan itu untuk memproduksi suatu barang, maka biaya atau pengorbanan tersebut dinamakan biaya produksi. Jika biaya tersebut untuk memasarkan suatu barang, maka biaya itu dinamakan biaya pemasaran.

Biaya perusahaan terdiri dari biaya eksplisit dan biaya implisit. Biaya eksplisit perusahaan adalah pembayaran tunai untuk membayar sumber daya yang dibeli di "pasar sumber daya", yaitu segala sesuatu yang diperlukan untuk mendukung aktivitas perusahaan. Biaya sumber daya dapat berupa upah, sewa, bunga, asuransi, dan pajak. Dengan kata lain, biaya eksplisit adalah biaya sumber daya perusahaan dalam bentuk pembayaran tunai.

Di samping pengeluaran tunai atau biaya eksplisit, perusahaan juga menghadapi biaya implisit yang merupakan biaya peluang (opportunity cost) dari penggunaan sumber daya milik perusahaan atau pemilik perusahaan. Biaya peluang berbeda dengan biaya sehari-hari. Biaya sehari-hari adalah pengorbanan yang harus dilakukan untuk melakukan suatu kegiatan (kegiatan ekonomi), tanpa memperhitungkan kerugian karena dikorbankannya kegiatan lain. Singkatnya, biaya sehari-hari muncul dari kegiatan apa yang dilakukan. Biaya peluang muncul dari kegiatan lain yang tidak dilakukan. Untuk memperjelas hal ini, ikutilah ilustrasi berikut.

Andi bekerja sebagai manajer di salah satu hotel bintang lima terkenal di Jakarta. Andi mendapat gaji per bulan sebesar
Rp20.000.000,00. Oleh karena ingin mengembangkan diri, la berhenti bekerja sebagai manajer dan membuka Restoran Puspasari. Restorannya menempati rumahnya yang dahulu disewakan sebesar Rp10.000.000,00 per bulan. Untuk modal kerja, ia mengambil depositonya sebesar Rp500.000.000 yang berbunga Rp2.000.000,00 per bulan. Pada Peraga 1.1 disajikan laporan laba-rugi Restoran Puspasari.

Jika laba akuntansi lebih kecil daripada biaya peluang, maka Andi sebenarnya merugi. Jadi, jika penerimaan Restoran milik Andi hanya Rp150.000.000,00, dengan laba Rp30.000.000,00, lebih baik bagi Andi untuk kembali bekerja di salah satu hotel bintang lima tersebut.

Literasi Keuangan dan Skala Prioritas

1. Literasi Keuangan
Literasi finansial disebut juga literasi keuangan. Literasi keuangan adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat (Kemdikbud, 2017).

Mengapa literasi keuangan penting? Isu keuangan adalah salah satu isu mendasar bagi kehidupan individu dan masyarakat untuk mekanisme kelangsungan hidup. Manusia merupakan konsumen untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Namun, manusia dapat terjerumus pada pola hidup konsumtif atau membeli barang-barang secara berlebihan. Pola hidup konsumtif yang tidak sesuai dengan kemampuan pendapatan dan kondisi keuangan akan menyebabkan masalah keuangan. Seorang individu membutuhkan pengetahuan dasar keuangan atau secara umum dikenal dengan istilah literasi keuangan atau literasi finansial (Kemdikbud, 2017).

Literasi literasi keuangan dengan demikian mencakup kemampuan mengelola keuangan. Pada bagian berikutnya, Anda akan mempelajari pengelolaan keuangan. Terdapat skala prioritas yang harus dipenuhi. Juga Anda dapat melakukan pengelolaan keuangan. Jangan lupa, terkait pengelolaan keuangan, kegiatan menabung dan berhemat sangat penting dilakukan.

Lebih jauh lagi, literasi keuangan terkait dengan pengetahuan mengenai lembaga keuangan serta produk produk yang dihasilkan lembaga keuangan tersebut. Pada buku ini akan dibahas sejumlah lembaga keuangan, seperti lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan nonbank. Anda diharapkan dapat mempelajari dan mengetahui lembaga-lembaga keuangan tersebut dan produk-produk yang dihasilkan agar literasi keuangan Anda lebih baik lagi.

2. Skala Prioritas dan Pengelolaan Keuangan

a. Skala Prioritas
Salah satu cara untuk mengatasi masalah ekonomi-kondisi di mana alat pemuas kebutuhan bersifat terbatas, sedangkan kebutuhan manusia tak terbatas-adalah dengan menetapkan skala prioritas. Kebutuhan yang lebih penting harus didahulukan pemenuhannya daripada kebutuhan lainnya.

Secara umum, kebutuhan akan pangan, sandang, papan harus didahulukan pemenuhannya dibandingkan dengan kebutuhan yang lain. Jika tidak didahulukan, kelangsungan hidup kita dapat terancam. Skala prioritas kebutuhan dapat digambarkan melalui peraga berikut.

Gambar

Sebagai contoh dari skala prioritas, perhatikanlah ilustrasi berikut : 
Setiap minggu, Erika mendapat uang saku sebesar Rp500.000,00. Uang saku itu harus dapat memenuhi kebutuhannya selama satu minggu, antara lain untuk transportasi, membeli keperluan sekolah, jajan, dan menabung. Pada suatu pekan, Erika mempunyai berbagai macam kebutuhan. Selain pengeluaran rutin, Erika harus membeli buku baru. Selain itu, Erika juga harus membeli kado ulang tahun untuk sahabatnya, Fanny.

Untuk memenuhi semua kebutuhan itu, Erika harus menentukan skala prioritas kebutuhan yang harus dipenuhinya. Berdasarkan skala prioritas itu, Erika membuat daftar kebutuhan sebagai berikut.

Tabel 1.1 Daftar Kebutuhan Erika
GAMBAR 

Berbekal skala prioritas tersebut, Erika dapat memenuhi semua kebutuhannya dalam satu minggu itu.

b. Pengelolaan Keuangan

Pada ilustrasi Tabel 1.1, tampak dengan jelas bahwa pemenuhan kebutuhan berkaitan erat dengan uang. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa uang memegang peranan penting dalam hidup kita.

Sebagai seorang siswa, kita memang belum memiliki penghasilan sendiri. Namun, sebagian besar dari kita mempunyai uang saku yang diperoleh dari orang tua. Ada di antara kita yang menerima uang saku setiap hari. Ada yang menerima uang saku mingguan. Ada pula yang menerima uang saku bulanan. Dengan uang saku tersebut, kita dapat memenuhi berbagai kebutuhan, misalnya membeli alat tulis, transportasi, atau jajanan. Agar kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat terpenuhi, kita harus dapat mengelola keuangan dengan baik.

Langkah awal yang dapat kita lakukan dalam mengelola keuangan adalah dengan membuat pembukuan keuangan, Kita dapat membuat pembukuan mengenai besar jumlah pemasukan dan pengeluaran setiap minggu atau bulan. Kita dapat merencanakan pengeluaran yang akan kita lakukan dalam minggu atau bulan yang bersangkutan. Dengan melakukan hal ini, kita akan benar-benar memahami dan mengetahui apa saja kebutuhan yang harus diutamakan dan dikesampingkan, sehingga besar pengeluaran kita akan terkontrol dengan baik.

Langkah selanjutnya dalam mengelola keuangan adalah dengan memonitor dan mengevaluasi secara berkala. Hal ini diperlukan agar jika dalam keuangan terjadi masalah, kita dapat segera mendeteksi penyebabnya dan melakukan tindakan pencegahannya. Memonitor dan mengevaluasi secara berkala juga bermanfaat untuk mengakomodasi setiap perubahan dalam rencana pengeluaran kita. Contohnya, mengakomodasi pengeluaran-pengeluaran tak terduga.

Pada ilustrasi tentang skala prioritas sebelumnya, membeli kado ulang tahun dan buku baru adalah kebutuhan yang tidak selalu ada setiap minggunya. Namun pada minggu itu, Erika harus membelinya. Agar kedua kebutuhan tersebut terpenuhi, Erika harus memperhitungkan pengeluaran yang lain. Contohnya, biasanya Erika mengeluarkan uang sebesar Rp130.000,00 untuk jajan selama satu minggu. Namun, karena Erika memiliki kebutuhan tak terduga dalam minggu itu. maka la membatasi pengeluarannya untuk membeli jajanan. Daripada membeli jajanan, seperti hamburger, es krim, dan softdrink, seperti biasanya, Erika memilih untuk membeli bubur ayam, bakso, dan air mineral dengan harga yang lebih murah tetapi tetap bergizi.

Langkah berikutnya yang tidak kalah penting dalam pengelolaan keuangan adalah membiasakan diri menabung sejak dini. Hal ini akan sangat membantu kita ketika harus menghadapi pengeluaran-pengeluaran tak terduga Dengan membiasakan diri menabung, kita sekaligus belajar membiasakan diri untuk hidup hemat.

D. Pembagian Ilmu Ekonomi

Ruang lingkup pembahasan ilmu ekonomi sangat luas dan beragam. Oleh karena itu, ilmu ekonomi dibagi atas tiga kelompok dasar, yaitu kelompok ekonomi deskriptif, kelompok teori ekonomi, dan kelompok ekonomi terapan.

1. Ekonomi Deskriptif (Descriptive Economics)
Ekonomi deskriptif memberikan keterangan yang melibatkan pengidentifikasian, pendefinisian, kompilasi informasi, pengukuran fenomena, dan pengumpulan data. Dengan kegiatan ini, kita memperoleh sejumlah pengetahuan tentang fakta-fakta atau data empiris yang ada. Contohnya, jumlah angkatan kerja, struktur serikat buruh, dan asal-usul serta sejarah lembaga ekonomi. Pada ekonomi deskriptif tidak ada penjelasan mengapa fakta-fakta itu terjadi dan tidak ada pernyataan evaluatif atau penilaian atas fakta-fakta itu.

2. Teori Ekonomi (Economic Theory)

Teori ekonomi berusaha menggeneralisasi data-data ekonomi dan memberikan penafsiran atas data tersebut. Teori ekonomi merupakan kumpulan asas atau hukum ekonomi yang digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan kebijakan ekonomi. Teori ekonomi adalah bagian dari ilmu ekonomi yang bertugas menerangkan hubungan antara peristiwa-peristiwa ekonomi dan merumuskan hubungan hubungan tersebut dalam suatu hukum atau teori ekonomi. Teori ekonomi merupakan kerangka konsep yang berasal dari data-data konkret yang disusun, diolah, serta diuji coba

sehingga akhirnya membentuk asumsi yang bersifat umum. Teori ekonomi terbagi atas ekonomi makro dan ekonomi mikro. Pengertian ekonomi makro dan ekonomi mikro adalah sebagai berikut.

a. Ekonomi makro adalah bagian dari ilmu ekonomi yang khusus mempelajari mekanisme kerja perekonomian secara keseluruhan. Ekonomi makro meneliti fenomena ekonomi yang luas, seperti tingkat pengangguran, pendapatan nasional, tingkat pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan tingkat harga. Tujuan kajian ekonomi makro adalah untuk memahami berbagai peristiwa ekonomi untuk merumuskan serta memperbaiki kebijakan ekonomi.

b. Ekonomi mikro adalah bagian ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku individu dan rumah tangga produksi atau perusahaan dalam membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang terbatas.

3. Ekonomi Terapan (Applied Economics)

Ekonomi terapan merupakan cabang ilmu ekonomi yang menggunakan hasil kajian teori ekonomi untuk menjelaskan fakta-fakta yang dikumpulkan oleh ekonomi deskriptif. Berbeda dengan ekonomi murni yang berkaitan dengan teori secara abstrak, ekonomi terapan dipandang sebagai sarana untuk solusi bagi masalah-masalah praktis. Ekonomi terapan termasuk dalam Ekonomi deskriptif bekerja dengan mengumpulkan informasi-informasi faktual mengenai masalah ekonomi. Ekonomi deskriptif menggambarkan keadaan perekonomian yang sebenarnya terjadi di masyarakat.

arena kebijakan pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah berdasarkan bukti empiris. Ekonomi terapan antara lain menggunakan teori ekonomi, pengukuran dan metode analisis statistik, serta ekonometrika untuk menjelaskan fenomena ekonomi dan untuk menginformasikan kebijakan ekonomi.

Ekonometrika adalah seperangkat metode statistika yang memungkinkan ekonom menguji hipotesis dengan menggunakan data dari lapangan. Contoh hipotesis yang diuji adalah pengaruh harga minyak dunia terhadap nilai dolar AS atau kebenaran bahwa stimulus fiskal mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ekonometrika seringkali disalahartikan dengan matematika ekonomi. Perbedaan matematika ekonomi dengan ekonometrika adalah matematika ekonomi membahas penerapan matematis pada aspek-aspek teoretis dari analisis ekonomi, tanpa memperhatikan masalah-masalah statistika.

Selasa, 30 Agustus 2022

Biaya Eksplisit dan Implisit Beserta Contoh dan Perbedaannya

Biaya Eksplisit dan Implisit Beserta Contoh 

SMA SAPTA KHARISMA

32 Agustus 2022

Biaya eksplisit dan implisit
         Di dalam ilmu ekonomi, terutama yang mempelajari mengenai keuangan perusahaan, terdapat dua jenis biaya yang dikeluarkan, yaitu biaya eksplisit dan biaya implisit. Meskipun secara definisi keduanya berbeda, tetapi keduanya sama-sama dikeluarkan untuk mendukung proses produksi suatu perusahaan. 

           Sederhananya, biaya eksplisit adalah biaya wajib, sedangkan biaya implisit adalah biaya yang tidak wajib dikeluarkan oleh perusahaan. Bagaimana maksudnya? Artikel ini akan menjelaskan lebih lanjut mengenai apa itu biaya eksplisit dan implisit beserta dengan contoh dan perbedaannya. 

A. Biaya Eksplisit
Pengertian Biaya Eksplisit
     Biaya eksplisit adalah biaya yang memang diketahui oleh perusahaan dan dikeluarkan selama proses produksi berlangsung. Sederhananya, biaya eksplisit ini adalah biaya yang keluar karena memang sudah jadi kewajiban perusahaan untuk dapat melakukan proses produksi. Dapat dikatakan bahwa proses produksi tidak bisa berjalan jika biaya eksplisit ini tidak dikeluarkan.  

     Biaya eksplisit ini sifatnya adalah tetap dan sudah masuk ke dalam rancangan keuangan perusahaan yang sudah diatur sebelumnya. 

    Biaya ini juga dapat dikatakan sebagai biaya nyata karena memang berhubungan langsung dengan proses produksi yang sedang berlangsung. Biaya eksplisit nantinya akan sangat menentukan berbagai hal, seperti harga jual, persentase keuntungan atau kerugian. 

Contoh Biaya Eksplisit
     Seperti yang telah dijelaskan bahwa biaya eksplisit adalah biaya yang dikeluarkan dan pencatatannya masuk ke dalam laporan keuangan perusahaan. Contoh biaya yang termasuk ke dalam biaya eksplisit adalah: 

1. Upah Tenaga Kerja
Upah tenaga kerja atau gaji karyawan ini adalah salah satu biaya yang wajib dikeluarkan untuk menjalankan proses produksi. Tentunya suatu perusahaan membutuhkan sumber daya manusia untuk mencapai tujuannya, dalam hal ini adalah produksi sampai penjualan. 

Upah itu dapat dibayarkan dalam waktu harian, mingguan, atau bulanan. Tetapi umumnya upah tenaga kerja dibayarkan secara bulanan bergantung pada perjanjian awal antara perusahaan dan tenaga kerja. 

Upah tenaga kerja tentunya wajib dikeluarkan tiap bulannya dan masuk ke dalam catatan perusahaan. Meskipun kaitannya bukan soal bahan baku produksi, tetapi upah tenaga kerja akan mempengaruhi modal dan digunakan untuk menentukan biaya produksi untuk nantinya dihitung persentase keuntungannya. 

2. Biaya Bahan Baku
Selain karyawan, bahan baku merupakan elemen utama di dalam suatu proses produksi. Untuk mendapatkan bahan baku, setiap perusahaan perlu membelinya dari produsen lainnya. Karena ada proses pembelian, maka tentunya ada biaya yang harus dikeluarkan. Dan biaya itu termasuk ke dalam biaya eksplisit.

Biaya bahan baku akan berpengaruh pada harga barang yang akan diperjualbelikan ke pasar nantinya. Berapa persentase keuntungan yang ingin ditetapkan dipengaruhi oleh biaya bahan baku ini. 

Yang termasuk ke dalam biaya bahan baku adalah biaya bahan baku itu sendiri, biaya pengiriman, biaya pajak, dan lain sebagainya. 

3. Biaya Lokasi
Biaya Lokasi adalah biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan tempat untuk proses produksi. Tentunya setiap proses produksi membutuhkan lokasi untuk melakukan proses produksinya. 

Biaya lokasi dapat berupa biaya sewa gedung dan biaya listrik. 

Namun jika tempat produksi sudah memiliki tempat sendiri, tetap saja biaya yang harus dikeluarkan adalah biaya seperti biaya listrik, kebutuhan air, sampai kebersihan. 

4. Biaya Peralatan
Biaya peralatan yang digunakan untuk proses produksi juga menjadi salah satu biaya eksplisit. Meskipun memang terkadang ada yang bersifat tidak terduga, tetapi biaya peralatan yang sifatnya tetap adalah biaya pemeliharaan peralatan. 

Umumnya, perusahaan sudah menentukan kapan harus melakukan pemeliharaan terhadap peralatannya. 

5. Biaya Pemasaran
Pemasaran meskipun tidak langsung terkait dengan produksi, tetapi pemasaran akan mempengaruhi penjualan suatu produk. Oleh karena itu, biasanya perusahaan akan menetapkan biaya pemasaran sejak awal akan melakukan produksi. 

Biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan untuk proses memperkenalkan produk ke masyarakat, baik itu secara langsung maupun secara daring. Seperti misalnya adalah iklan, endorsement, sampai sponsorship. 

B. Pengertian Biaya Implisit
Biaya implisit dapat dikatakan sebagai kebalikan dari biaya eksplisit. Biaya implisit adalah biaya yang sifatnya tidak wajib dikeluarkan, tetapi besar kemungkinannya selalu dikeluarkan saat proses produksi. Jadi, biaya implisit sifatnya lebih tidak terduga atau tidak terlihat. 

Biaya implisit ini tidak dimasukkan kepada laporan keuangan tahunan perusahaan. Pada dasarnya biaya implisit dikeluarkan sebagai bentuk pengorbanan karena telah menggunakan aset internal perusahaan. 

Contoh Biaya Implisit
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa biaya implisit ini adalah biaya yang sifatnya tidak tetap dan cenderung tidak terduga. Biaya ini kadang dikeluarkan untuk mendukung proses produksi. Contoh biaya yang termasuk ke dalam biaya implisit adalah: 

1. Pelatihan Karyawan
Pelatihan karyawan sebenarnya sifatnya tidak wajib, tetapi banyak perusahaan yang melakukannya demi menambah kemampuan dari tenaga kerjanya agar berkembang dan berpengaruh pada proses produksi yang juga lebih maksimal. 

Biaya pelatihan ini tidak seperti gaji karena hanya dilakukan dalam waktu tertentu saja, sesuai dengan kemampuan dari perusahaan. 

2. Bonus Tenaga Kerja
Bonus tenaga kerja ini sifatnya juga tidak wajib dikeluarkan oleh perusahaan. Biaya ini dikeluarkan dengan melihat kondisi profit perusahaan. Jika memang sudah melebihi target, bonus ini kemungkinan baru akan dikeluarkan oleh perusahaan. 

Bonus ini juga digunakan sebagai bentuk apresiasi terhadap tenaga kerja supaya nantinya juga akan termotivasi untuk meningkatkan kinerja. 

3. Perbaikan Peralatan Produksi
Perbaikan peralatan produksi berbeda dengan pemeliharaan produksi. Perbaikan ini sifatnya lebih tidak terduga karena dikeluarkan ketika peralatan rusak. Sedangkan pemeliharaan adalah proses yang dilakukan untuk menjaga supaya peralatan tidak rusak. Tentunya setiap perusahaan tidak tahu kapan peralatannya akan rusak. 

4. Biaya Acara
Biaya acara ini maksudnya adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menyelenggarakan kegiatan tertentu, baik untuk internal perusahaan maupun eksternal perusahaan.

Biaya acara ini bisa berupa kegiatan seperti outbond, perayaan ulang tahun, biaya duka cita untuk karyawan, sampai biaya untuk melakukan kegiatan tanggung jawab sosial (CSR). 

Kamis, 20 Januari 2022

KD 3.10 USAHA KECIL MENENGAH (UKM)

 KD 3.10 USAHA KECIL MENENGAH KEATAS 

SMK IPTEK JAKARTA 

Disuusn Oleh : Yati Octavia, S.Pd



Usaha Kecil Menengah (UKM) atau istilah lainnya Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) adalah sebuah bisnis yang dijalan dengan modal kecil bagi siapapun yang ingin memulai usaha. Hal ini juga didukung oleh pemerintah melalui berbagai kegiatan, pelatihan, dan lainnya. Dengan modal kecil, UMKM bisa dilakukan dari rumah sendiri dulu.

Inilah yang memunculkan banyaknya 'home industri' atau industri rumahan. Jika digeluti dengan baik dan tekun, tentu UMKM bisa menjadi bisnis dengan penghasilan besar. Anda sedang mencari ide bisnis UMKM?

Berikut 12 Contoh UMKM yang dapat ditiru :

1. Bisnis Kuliner

        Kuliner adalah bisnis yang tak pernah mati karena makanan merupakan kebutuhan semua orang. Ragam usaha kuliner yang bisa dikembangkan pun sangat banyak. Anda dapat memulai berbisnis di bidang ini dengan modal awal yang kecil. Untuk sukses, kuncinya terletak pada kualitas rasa makanan, pelayanan, dan strategi pemasaran.

2. Bisnis Fashion

        Bisnis fashion juga berpotensi menghasilkan profit yang besar, terutama pada momen tertentu seperti hari raya. Tren mode yang terus berganti seiring perubahan zaman membuat bisnis ini tidak pernah jalan di tempat. Anda bisa mengembangkan UKM di bagian produksi maupun jual beli produk fashion, baik di toko konvensional, maupun online.


3. Bisnis Pendidikan
        Tempat-tempat kursus dan pelatihan tatap muka cukup digemari, baik pelajar sekolah maupun orang yang ingin menambah keahlian khusus. Untuk memulai berbisnis di bidang ini, Anda harus mengenali kemampuan diri sendiri sebagai modal awal. Selanjutnya, tawarkan keunggulan yang tidak bisa diperoleh pengguna jika hanya belajar secara online.

4. Bisnis Otomotif
        Ada banyak peluang bisnis UKM di bidang otomotif, antara lain jual beli suku cadang kendaraan, rental mobil atau motor, bengkel otomotif, dan jasa cuci kendaraan. Bisnis ini sangat potensial karena jumlah kendaraan terus bertambah. Menurut Katadata, di Jakarta saja, rata-rata pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor adalah 5,3% per tahun.

5. Bisnis Agribisnis
        Sebagai kebutuhan pokok, peluang bisnis agribisnis, yaitu bisnis di bidang pertanian dan peternakan, sangat terbuka lebar. Namun, pelaku UKM masih didominasi oleh orang tua. Beberapa contohnya adalah ternak ayam potong atau ayam petelur, budidaya tanaman rempah, jual sayur organik, dan jual bibit tanaman.

6. Bisnis Tour & Travel
            Bisnis tour & travel sangat potensial, terutama di daerah pariwisata. Anda bisa menawarkan paket tur dengan ekstra fasilitas yang memudahkan wisatawan. Bisnis ini juga mencakup layanan akomodasi, seperti guest house, cottage, villa, losmen, dan sebagainya. Ada pula bisnis oleh-oleh yang menggiurkan, baik makanan maupun produk khas.

7. Bisnis Produk Kreatif
            Ragam produk kreatif atau kerajinan tangan memiliki nilai jual yang tinggi. Keunggulannya terletak pada keunikan dan sisi artistiknya. Ada banyak peluang usaha kecil dan menengah di bidang ini, mulai dari membuat produk fesyen hingga aksesori dan ornamen untuk rumah.

8. Bisnis Teknologi Internet
            Berbasis teknologi internet, bisnis UKM jauh lebih berkembang. Bisnis ini dibutuhkan oleh masyarakat masa kini yang akrab dengan dunia maya. Selain potensial, bisnis teknologi internet juga memiliki lingkup yang luas sehingga memungkinkan beragam inovasi dan eksplorasi.

9. Bisnis Kecantikan
            Dengan modal yang tidak terlalu besar, Anda bisa memulai bisnis kecantikan seperti salon. Peluangnya pun cukup besar. Supaya sukses, hal yang bisa ditawarkan adalah kualitas layanan dan variasi jasa.

10. Bisnis Event Organizer
            Anda juga bisa menggeluti bisnis event organizer dalam skala kecil hingga menengah jika modal tak seberapa.  Ada banyak contoh yang bisa dicoba, seperti menyelenggarakan acara ulang tahun, anniversary, pernikahan, dan sebagainya.

11. Bisnis Jasa Kebersihan
              Jasa kebersihan, contohnya laundry, merupakan kebutuhan masyarakat modern. Dengan modal yang tidak terlalu banyak, bisnis sudah bisa dimulai. Selain laundry, Anda juga bisa mengembangkan jenis lain, seperti membersihkan sepatu, helm, atau rumah.

12. Bisnis Kebutuhan Anak
Kebutuhan anak bermacam-macam, mulai dari pakaian, makanan, bacaan, hingga mainan. Bidang bisnis ini sangat menjanjikan karena orang tua biasanya tak sungkan mengeluarkan uang untuk kebutuhan anak.


BAB 1 PENGANTAR ILMU EKONOMI

PENGANTAR ILMU EKONOMI KELAS 10 KURIKULUM MERDEKA SMA SAPTA KHARISMA 1. Pengertian Ilmu Ekonomi Kata ekonomi berasal dari bahasa Yunani, yak...